Lintas Budaya Jerman – Indonesia (Episode 1)

•4 September 2011 • Tinggalkan sebuah Komentar

Memasuki hari ke 3 tinggal di Jerman sudah begitu terasa bedanya dengan Suasana di Indonesia, mulai dari perbedaan waktu panjangnya siang ya..jam-jam 19.00 itu maseh terang benerang lah, malam yang pendek, Jam 22.15 malem baru adzan isya’, jalan di Jalur kanan, dll. Termasuk orang yang jalan kaki/naek sepeda pancal sangat dihargai, bahkan ketika kita lewat menyebrang degan jalan kaki atau sepeda, mobil pwasti akan berhenti nunggu kita menyeberang (Betapa tidak, katanya andaikan sedikit aja nyerempet menabrak pesepeda/pejalan kaki, pengemudi mobil langsung didenda 3000 euro utk korban, weh 3000 euro = Rp. 37 Juta-an lebih men..). Kebetulan hari ke tiga saya disini pas memasuki hari libuk weekend Sabtu-Minggu, jadi sayapun tidak ada kegiatan di kampus, jadi saya punya waktu sedikit banyak untuk pertama kali menggali dan mengenal masyarakat di Jeman lebih dalam.
Sebelumnya di hari kedua, saya sudah ketemu dengan teman Indonesia senior yang juga ambil gelar ganda Magister dari ITS sejak tahun lalu, Namanya Rizky Maulana. Saya pun diajaknya mengenal tempat-tempat penting dan teman-teman pelajar Indonesia lainnya. Karena hari ke-2 adalah hari Jum’at, saya mulai dikenalkan masjid tempat Jum’atan yang Alhamdulillah ternyata juga ada yang tak jauh dari kampus saya di Jerman. Memang, mungkin agak banyak perbedaan dengan suasana mesjid di indonesia, mulai dari tidak bergaungnya adzan dan khotbah yang biasanya terdengar rame ketika hari Jum’at di Indonesia, Adhan Dzuhur baru jam 14.00, dan aksesoris-aksesoris mesjidnya yang sedikit unik. Masjid yang saya buat Jum’atan kemaren layaknya apartemen biasa yang satu lantai penuh dijadikan mesjid. Jadi para jama’ahnya sholat di ruangan-ruangan yang menjorok kedalam layaknya kamar, namun tentunya terbuka lebar lah pintu-pintunya. Lemari yang berkhiaskan tafsir-tafsir al-qur’an yang ditaruh di sisi-sisi tembok juga menghiasi ruangan masjid kecil tersebut. Mungkin ada satu hal yang belum terbiasa bagi saya, yaitu wudhu’ di wastafel. Wah saya kira ini hanya terjadi di apartemen saya, karena memang tidak dirancang dan dipirkan untuk itu, ternyata di Mesjid yang saya tempati-pun begitu. Orang-orang pada ambil wudhu’ disana dengan nyaman, begitupun ketika membasuh kaki, kaki harus dinaikkan satu persatu layaknya mencuci piring :D . Bismillah, semoga masih dalam kesopanan begitu kata hati saya ketika mengangkat kaki dan membasuhnya di wastefel saat berwudhu’. Maklum hati masih berperasaan Indonesia, kalo di Indonesia ada orang membasuh kaki dinaikkan ke wastafel bisa dilirik banyak orang tuh, gak sopan.. :D . Untuk masjid Arab hampir pesis dengan di Indonesia, cuma khotbahnya saja menggunakan bahasa arab penuh. Nah kalo di Mesjid ala Turki kata temen saya, begitu Imam membaca surah Alfatihah “Waladdhollin…”, makmumnya pada diam. Pernah kata temen saya, dia sholat Jum’at di Masjid kumpulannya orang-orang Turki, begitu “Waladdhollin”..ditengah keheningan para jama’ah, dia teriak dengan kenceng “Aaammiiinnnnn”…, hahaha..jelas semua pada ngeliriknya, ya sudah katanya habis itu buyar semua konsentrasi dan kekhusu’annya. Untunglah saya diceritain, kalo tidak, ketika saya pas berjamaah dan tidak sadar itu di masjid turki-an, bisa jadi terulang kisah memalukan yang dialami temen saya tadi itu,hehe. Continue reading ‘Lintas Budaya Jerman – Indonesia (Episode 1)’

Perjalanan Awal Menjemput Mimpi di Negeri Teknolog, Jerman

•3 September 2011 • 2 Komentar

Bismillihirrohmanirrohimm…Itulah kalimat awal yang saya ucapkan sebelum berangkat menuju negara yang terkenal dengan para tokoh pemikir dan teknologinya, itulah Jerman, negara yang sudah penuh dengan cerita karena kemajuannya.

Puji syukur kehadirat ilahi robbi, sebagai seorang anak kampung yg punya backgroud pendidikan pesantren di kampung pula dan bisa dibilang masih “katrok”, alangkah luar biasanya perasaan ini ketika diberi kesempatan beasiswa untuk belajar di Jerman (lebay.com gak papa lah sedikit untuk mensyukuri nikmat Tuhan ini). Wajarlah mungkin awalnya saya sedikit merasa minder (meskipun terus mencoba mem-PD-PD-kan diri),karena setelah bertemu dengan pelajar-pelajar Indonesia yang ada disini, kebanyakan mereka berasal,lahir, dan besar dari kota-kota besar di indonesia layaknya jakarta, Bandung, Yogyakarta dan Surabaya. Dari mukanya sudah kelihatan, mereka dari kalangan keluarga dan masyarakat hi-class. La saya?saya berasal dari kampung/desa di Kabupaten yang Kecil pula di Jawa Timur.

1 September 2011 Jam 09.00 Pagi, kampus saya di jerman (Hoschule Darmstadt University of Applied Scinces- http://www.h-da.de) sudah mensyaratkan mahasiswa baru program International Master of Science dari semua negara sudah harus berada dan sampai di ruang SCC kampus H-DA Jerman, padahal tanggal tersebut di Idonesia masih H+1 lebaran. Sementara perjalanan dari Indonesia ke Jerman Butuh 18 jam. Berarti paling tidak saya harus berangkat tgl.31 dari airport (itu pas hari H lebaran men..), eit ingat..saya bukan orang dari Kota besar di Indonesia, so masih butuh tambahan jam perjalanan mobil 5 jam dari kampung saya ke airport (kemaren saya start dari Juanda Airport Surabaya). Ya lengkaplah, malam takbiran tepat dini hari saya berangkat diantar keluarga dari kampung di Situbondo menuju Bandara Juanda Surabaya, sementara orang-orang lagi bertakbir di masjid-masjid sepanjang perjalanan menyambut Idul Fitri 1432 H.Untunglah saya bersama keluarga, kalau sendirian pastilah saya nangis terharu. Betapa tidak, biasanya orang Indonesia yang ada diluar kota/negeri pulang kampung untuk sungkeman dan silaturrohim dengan keluarga, lah kok saya malah pas Lebaran pergi ke Luar Negeri. Sesampainya di Juanda pas subuh, saya dan keluarga menunaikan sholat subuh dan lanjut sekalian ikut sholat Ied, Untunglah mesjid depan bandara Juanda sholat iednya pagi jam 06.00 sudah dimulai dan berakhir jam 06.30, sementara jadwal penerbangan saya masih jam 08.45. Alhamdulillah masih bisa sungkem Ibu dan mas, mbak, Bu’Lek, serta disungkemi istri (:D). Istri masih agak senang dan sedih..senang karena saya dapet kesempatan belajar dan sedih karena akan ditinggal sementara dan masih belum bisa ikut (semoga secepatnya bisa nyusul, amin). Continue reading ‘Perjalanan Awal Menjemput Mimpi di Negeri Teknolog, Jerman’

Riset, Alam Berfikir dan Stagnasi Otak

•17 Maret 2011 • 1 Komentar

Mungkin sudah sangat lama saya tidak menulis disini, terutama tentang catatan harian disaat saya belajar.  Ya…maklumlah, sudah sedikit disibukkan oleh pekerjaan dan kuliah lanjut. Kalo yang dulu saya nulis kegelisahan di saat mengerjakan TA. Nah sekarang pas nih, saya nulis lagi pas tegang2nya mengejar kerjaan Tesis S2. Semuanya siap kutumpahkan jiwa dan pikiran ini demi akhir semester yang ceria.. {^_^}

Riset, mungkin hal yang sedikit kedengaran agak ngeri bagi orang yang belum pernah menyentuhnya. Apalagi riset ilmiah, dibutuhkan banyak referensi dan bahan rujukan yang baik dan teruji kevalidannya. Paper dan jurnal-jurnal ilmiah menjadi bahan sarapan hari-hari, ditambah kamus besar bahasa inggris, hehe..ya karena mau tidak mau, suka tidak suka, semua jurnal internasional kebanyakan berbahasa inggris. Pastinya bukan bahasa inggris biasa, banyak kosa kata bahasa inggris khas riset dan teknologi yang tidak dijumpai dalam pelajaran2 bahasa inggris di sekolah.

Lantas?haruskah yang mau riset harus kerdil ataupun yang akan memulainya balik putar balik gara-gara gambaran riset yang begitu rumit. No..no.. jangan ciut dulu.. Sedikit saya berbagi tentang dag dig dug hati dan otak yang terus berputar-putar.

Pertama saya disodori jurnal tentang animasi gerak ikan, riset salah seorang mahasiswa S3 di Toronto University USA oleh dosen pembimbing tesis saya, saya disuruh baca dan sama sekali dosen tersebut tidak mau ditanyain apa maksud dari bahasan ini. Pasti jawabnya ‘ baca lagi..’, kurang banyak kamu bacanya, ulangi sampai puluhan kali. Oke saya coba lagi, tambah memahami, tambah bingung..,seakan-akan otak ini sudah stagnan dan tidak mau burputar lagi..Oh Tuhan..begitu merintih hati saya. Lalu saya menghadap lagi ke pembimbing saya, belum sempat bilang, langsung ditanggapi ‘Lah itu, kan sudah keliatan raut mukanya, sudah agak stress keliatannya, baguss..baguss..itu awal yang baik, itu tandanya pola pikirmu sudah berkembang, neuron2 otakmu mulai mencari algoritma-algoritma baru, ada pengembangan alur pikir yang mulai tercipta, kamu pastinya sudah ada perubahan disaat ketika kamu S1 dulu.” Weh.. dalam hati aku bilang, wah..apanya pak, ini sudah mulai rontok rambutnya, kok dibilang perkembangan.. :D

Tapi saya terus berfikir, saya istirahat sejenak sampai otak ini sedikit agak dingin, pusingnya mulai redah. Kemudian baru saya baca-baca jurnal lagi, nah..ternyata benar, meski sampai saat saya bingung belum ada pengembangan, begitu saya baca lagi, cara memahaminya sudah agak mulai lancar, satu demi satu pemahaman terhadap jurnal-jurnal ilmiah yang berkaitan dengan tesis-ku bisa diserap… Ya, itu lah dunia pikiran. Memang kalo selalu dimanja, selalu minta dituntun pikiran kita akan sedikit berkembang, karena tidak ada emosi yang diikutkan disitu. Namun ketika kita ditantang, ditambah nilai penasaran, bingung dan keingin tahuan yang tinggi, sebingung apapun kita memahami sesuatu yang baru, pasti akan hadir suatu pemahaman yang dalam tatkala kita menemukan muara bahasannya..

Oke, mungkin itu dulu motivasi saya dalam tulisan ini. Oiya, satu lagi, Berdo’a; itu salah satu kunci terhebat yang akan mereaksikan alam bawah sadarmu dan reaksi tubuhmu akan dipercepat oleh Tuhan. Kalo kita biasa hanya berdo’a 5 kali sehari tatkali sholat, ya..tambahkanlah sholat2 sunnah seperti tahajjut dan dhuha yang rutin, plus do’a-do’amu agak secuil ilmu tuhan yang sedang kamu cari diturunkan dan digampangkan.., karena jika yang punya sudah membukakan jalan, ya..ilmu tinggal kita gunakan..

Biamillah, semoga tulisan kesuksesan akan segera menyusul secepatnya, mohon do’anya semua…

Surabaya,17 Maret 2011

di Laboratorium Common Computing T.Elektro ITS

Tugas Akhir… bisa menjadi Penyemangat atau momok

•10 Oktober 2006 • 1 Komentar

Bagi mereka yang mo menyelesaikan akhir kuliahnya tentunya sudah tidak asing lagi dengan yang namanya skripsi/tugas akhir. Pekerjaan ini merupakan ujung dari rangkaian perkuliahan yang selama ini dijalani di kampus.
Tugas akhir atau yang lebih familier disebut TA memang seringkali menjadi bayangan yang keliahatannya akan banyak menguras energi, materi dan laen-laennya. Hal itu akan terjadi jika
Tugas Akhir dibayangkan dan dilakukan demikian, namun ketika kita lebih rileks dan menikmati apa yang kita kerjakan, maka TA seakan sperti makanan yang siap kita telan dan akhirnya nanti bisa mengenyangkan dikemudian hari. Kita merasa lebih enjoy karena kita butuh dan senang dengan apa yang kita kerjakan.

Tugas Akhir…Tugas akhir….., moga cepet terselesaikan! Dunia sudah menunggumu paska itu. Bintang-bintang sudah siap menggiringmu menuju tempat yang lebih bijak untukmu. Amin..semoga itu bisa menjadi motivasiku selama ini.
Laboratorium TA yang menjadi rumahku saat ini telah banyak memberikan kenangan, karena tiap malem ku begadang disana…hehehe, ya meski banyak nge-NETnya ketimbang ngerjakannya. Tapi moga-moga dengan adanya niat yang tulus dan keinginan besar untuk merampungkan TA, akan segera terealisasikan…Aminnnn!!!
Ada satu kegiatan yang kadang aku rindukan, yaitu Ngopi bareng temen kos. Ini biasa saya jadwalkan tiap hari diatas jam 10 malem di warung-warung kopi sekitaran keputih. Wah…saat aku selalu nginep di Lab, sudah jarang ku luangkan waktuku untuk ngopi dan diskusi kecil tentang diri, pergerakan dan bahkan kadang soal asmara chye..chye..chye…!! tapi gapapa, untuk sementara aku fokus dulu sahabat untuk menyelesaikan akademik saya, besok pasti kita ngopi-ngopi lagi…..
Buat ibu dirumah yang selalu setia berdo’a untuk anaknya yang lagi cari ilmu, do’akan terus ibu, insyaallah akan saya lakukan yang terbaik demi masa depan saya…, walau saya tahu semua itu tidak cukup untuk membalas jasa-jasamu yang begitu besar dan mulia…

Poko’e intinya Chayo…..Spirit..Spirit…!!
Cepet Sidang…Wisuda..!!

Where There a Will There Is a Way!!

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.