Lintas Budaya Jerman – Indonesia (Episode 1)

Memasuki hari ke 3 tinggal di Jerman sudah begitu terasa bedanya dengan Suasana di Indonesia, mulai dari perbedaan waktu panjangnya siang ya..jam-jam 19.00 itu maseh terang benerang lah, malam yang pendek, Jam 22.15 malem baru adzan isya’, jalan di Jalur kanan, dll. Termasuk orang yang jalan kaki/naek sepeda pancal sangat dihargai, bahkan ketika kita lewat menyebrang degan jalan kaki atau sepeda, mobil pwasti akan berhenti nunggu kita menyeberang (Betapa tidak, katanya andaikan sedikit aja nyerempet menabrak pesepeda/pejalan kaki, pengemudi mobil langsung didenda 3000 euro utk korban, weh 3000 euro = Rp. 37 Juta-an lebih men..). Kebetulan hari ke tiga saya disini pas memasuki hari libuk weekend Sabtu-Minggu, jadi sayapun tidak ada kegiatan di kampus, jadi saya punya waktu sedikit banyak untuk pertama kali menggali dan mengenal masyarakat di Jeman lebih dalam.
Sebelumnya di hari kedua, saya sudah ketemu dengan teman Indonesia senior yang juga ambil gelar ganda Magister dari ITS sejak tahun lalu, Namanya Rizky Maulana. Saya pun diajaknya mengenal tempat-tempat penting dan teman-teman pelajar Indonesia lainnya. Karena hari ke-2 adalah hari Jum’at, saya mulai dikenalkan masjid tempat Jum’atan yang Alhamdulillah ternyata juga ada yang tak jauh dari kampus saya di Jerman. Memang, mungkin agak banyak perbedaan dengan suasana mesjid di indonesia, mulai dari tidak bergaungnya adzan dan khotbah yang biasanya terdengar rame ketika hari Jum’at di Indonesia, Adhan Dzuhur baru jam 14.00, dan aksesoris-aksesoris mesjidnya yang sedikit unik. Masjid yang saya buat Jum’atan kemaren layaknya apartemen biasa yang satu lantai penuh dijadikan mesjid. Jadi para jama’ahnya sholat di ruangan-ruangan yang menjorok kedalam layaknya kamar, namun tentunya terbuka lebar lah pintu-pintunya. Lemari yang berkhiaskan tafsir-tafsir al-qur’an yang ditaruh di sisi-sisi tembok juga menghiasi ruangan masjid kecil tersebut. Mungkin ada satu hal yang belum terbiasa bagi saya, yaitu wudhu’ di wastafel. Wah saya kira ini hanya terjadi di apartemen saya, karena memang tidak dirancang dan dipirkan untuk itu, ternyata di Mesjid yang saya tempati-pun begitu. Orang-orang pada ambil wudhu’ disana dengan nyaman, begitupun ketika membasuh kaki, kaki harus dinaikkan satu persatu layaknya mencuci piring :D . Bismillah, semoga masih dalam kesopanan begitu kata hati saya ketika mengangkat kaki dan membasuhnya di wastefel saat berwudhu’. Maklum hati masih berperasaan Indonesia, kalo di Indonesia ada orang membasuh kaki dinaikkan ke wastafel bisa dilirik banyak orang tuh, gak sopan.. :D . Untuk masjid Arab hampir pesis dengan di Indonesia, cuma khotbahnya saja menggunakan bahasa arab penuh. Nah kalo di Mesjid ala Turki kata temen saya, begitu Imam membaca surah Alfatihah “Waladdhollin…”, makmumnya pada diam. Pernah kata temen saya, dia sholat Jum’at di Masjid kumpulannya orang-orang Turki, begitu “Waladdhollin”..ditengah keheningan para jama’ah, dia teriak dengan kenceng “Aaammiiinnnnn”…, hahaha..jelas semua pada ngeliriknya, ya sudah katanya habis itu buyar semua konsentrasi dan kekhusu’annya. Untunglah saya diceritain, kalo tidak, ketika saya pas berjamaah dan tidak sadar itu di masjid turki-an, bisa jadi terulang kisah memalukan yang dialami temen saya tadi itu,hehe.

Selesai sholat Jum’at, saya dikenalkan kepada beberapa teman-teman IKID (Ikatan Keluarga Islam Darmstad) Germany, IKID merupakan kumpulan orang-orang asal Indonesia yang ada di kota Darmstadt Jerman, kebanyakan dari mereka adalah pelajar/mahasiswa meski ada pula yang sudah bekerja dan menetap disana. saya pun diperkenalkan dan malamnya sudah dibahas penyambuatan kami berdua (saya dan teman saya berdua dari ITS) untuk kumpul makan-makan dan ramah tamah, bisa dibilang welcome party lah untuk kita. Akhirnya, welcome party ditetapkan di apartemennya mas Rizky Maulana, temen senior ITS yang double degree mulai tahun yang lalu (saya juga sudah ceritakan tadi), apartemennya terletak di Riedesel Strasse No.64 Darmstadt. Alhamdulillah begitu malam tiba, semua teman-teman berdatangan, ada Sultan (anak Jakarta yang sudah tinggal 6 tahun di Jerman sini), mas Arfiyanda Bachtiar (yang sudah 9 tahun, bekerja, sudah bersama keluarga dan punya 3 anak lahir disini. Bahkan kabarnya sudah mau jadi warga negara Jerman) dan mas Fiky Y. Suratman (Orang Bandung,alumnus ITB dan Dosen STT Telkom yang ambil PhD di UT Darmstadt sini dg beasiswa DAAD). Wah…kayak di negara Indonesia deh suasananya, ada rendang, dodol, nasi, dsb… Mantabb deh. Saya sangat senang, kumpulan orang muslim asal Indonesia tidak ada lagi yang memisah-misahkan pendapat hukum, aliran, ormas, dan sejenisnya disini. Semua saling menghargai, kemaren pas makan-makan ada teman yang sedikit tidak suka/atau mungkin tidak sepakat dengan orang yang me-rokok, tapi 2 teman lain sangat suka rokok, karena menghargai yang tidak suka mereka berdua (teman yang suka rokok) pergi ke dapur untuk menghisap rokok sejenak setelah makan. Nah, teman yg agak tidak suka rokok tadi tanya, lo kemana anak-anak tadi?ya..tu kedapur jadi ahli hisapp (ahli hisap rokok maksudnya), waakakaka…ketawa aja dia…weh…kayak sepur aja temen-temen nih.. begitu candanya, it’s fine. Keakraban suasana kekeluargaan terus terasa. Andai di Indonesia semua merasa satu saudara, tidak saling menyalahkan perkara persoalan-persoalan ajaran yang berbeda,dll. insyaAllah gak ada tuh yang main mengkafir-kafirkan, main sweeping dan curiga mencurigai sesama umat muslim. Ah…InsyaAllah pasti bisa di indonesia kelak kalau semua orang sudah tingkat tinggi pemahaman agamanya.

Oke, sekarang kembali ke catatan di hari ketiga, kembali ke awal yang menjadi pokok tulisanku ini, mengenai cross culture alias lintas budaya dan perbedaan-perbedaan yang bisa dipelajari antara di Jerman dan di Indonesia. Pagi jam 10.00, saya diajak jalan-jalan bersama teman sepemberangkatan saya Muis oleh mas Rizky, muter-muter di arena “Luisenplatz (Darmstadt), untuk tahu arenanya check it out http://de.wikipedia.org/wiki/Luisenplatz_%28Darmstadt%29 “, pusat kota, pertokoan dan supermarket tempat belanja barang keseharian, kita tempuh dengan jalan kaki, karena +- cuma 1 km lah dari asrama (Disini jalan kaki 1 km bukanlah jarak yg jauh, semua orang terbiasa dengan jalan kaki berkilo-kilo semacam ini.  Saya yang terbiasa dengan sepeda motor di Indonesia harus membiasakan jalan kaki jauh dan dengan langkah agak cepat sesampainya disini). Rencana awal mau mencari kartu HP perdana, atau mungkin beli HP baru (Soalnya antara beli HP baru + kartu atau beli kartunya saja harganya hampir sama :D ) karena kartu saya sampai hari ini belum saya ganti dengan SIM Card Jerman, namun ternyata barang yang sesuai umtuk mahasiswa stoknya habis, kata petugasnya baru akan datang lagi minggu depan. Ya..oke lah gapapa, sekalian dilanjutkan jalan-jalan aja, menghafalkan jalan dan mengenal suasana sekitar.
Ditengah jalan-jalan kita bertiga ngobrol soal perbedaan keseharian di Indonesia dengan di Jerman sini. Hampir orang-orang di Jerman disini senang jalan kaki atau mungkin bersepeda pancal, mangkanya jalanan pun swangat lenggang, kalau di Indonesia traffict-nya kayak di kampung, tapi infra struktur jalannya kayak di Jakarta, bahkan mungkin lebih rapi dan bersih disini. Mobil-mobil berserakan diparkir di pinggir-pinggir trotoar seakan tidak dihiraukan pemilikya,banyak yang memang asli buatan Jerman sendiri, seperti BMW, Mersedes Benz, dan sejenisnya. Mobil seperti ini katanya jauh sangat murah disini jika dibanding di Indonesia, yang sulit malah dapet SIM-nya,karena sepengalaman apapun dia harus menjalani tes dari nol dan harus melakukan proses ujicoba yang sangat detil. di Indonesia?Punya uang, apapun rebes.., mangkanya jangan heran jika pengguna jalan dan mobil yang bikin macet itu kebanyakan hanya orang-orang berduit. Rakyat menengah ke bawah dan rakyat biasa umumnya, ya..hanya menikmati macetnya dan serangan polusinya mobil-mobil tersebut.

Sambil berjalan lagi, ada orang yang ribut kecil di pinggir jalan, keliatannya gara-gara orang yang naek sepeda nyenggol berat orang yang jalan kaki. Saya liatin terus sambil teman saya celetuk, ya liatin, paling dia cuma sedikit bengak-bengok gitu..lima menit paling sudah selesai. Sebesar apapun ributnya, gak mungkin bakalan adu fisik. Gak berani disini, begitu sampai adu fisik kelihatan polisi, bisa sengsara sampai seumur hidup orang sini. Sekali kenak kriminal kecil saja, masa depan suram selamanya. Mau cari kerja, dan beraktifitas lainnya akan sulit setengah mati karena sudah di “black list”. MasyaAllah…di Indonesia?Pejabat keluar masuk tahanan kena kasus kadang masih bisa diperjuangkan untuk menjadi pejabat teras. Pejabatnya aja bisa kayak gitu, premannya ya santei wae je… daripada di luar sulit cari kerja, mending dipenjara..paling pikir para preman Indonesia gitu.

Tapi inget, Indonesia adalah Indonesia, tanah air kita, tempat kita lahir, besar dan mungkin juga tempat menutup mata kita kelak. Masa depan Indonesia dengan cita-cita terbentuknya masyarakat madani yang teratur, berbudaya, dan terarah InsyaAllah pasti akan terjadi jika kita sebagai generasi mau terhadap perubahan itu, meskipun mungkin masih dibutuhkan waktu yang panjang. It’s OK, mimpimu adalah masa depanmu….

Darmstadt-Germany, 03 September 2011 jam 10:53

~ oleh Zikky pada 4 September 2011.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.